Strategi Toko Tradisional mengalahkan Minimarket Modern (I)

Strategi Toko Tradisional mengalahkan Minimarket Modern (I) Persaingan ritel di Indonesia saat ini makin ketat, bayangkan disetiap kelurahan di Indonesia menjamur minimarket modern. Sementara disisi lain, warung-warung dan toko kelontong tradisional makin terpuruk bahkan menghilang ditinggalkan pembelinya. Banyak pendapat yang menyimpulan bahwa toko tradisional berguguran karena faktor modal, miskin manajemen, barang kurang lengkap, harga tidak bersaing, toko kumuh dan lain-lain. Sepintas alasan-alasan tersebut masuk akal dan teoritis, tapi pernahkah anda melihat beberapa toko tradisional masih berdiri tegak dan banyak pelanggannya ?, Anda pasti masih bisa menemukannya walaupun sulit. Nah, kira-kira bagaimana kiat sukses toko tradisional masih berdiri tegak ?.

Mari kita lihat konsep ritel modern untuk membedahnya. Dalam konsep ritel modern dikenal Ritel Mix, suatu bauran faktor yang mendasar menentukan sukses bisnis ritel. Ritel Mix tersebut terdiri atas : Place, Product, Price, Promotion, People, Procedure. Kita akan sajikan dalam matriks Ritel Mix -Minimarket Modern Vs Toko Tradisional. Baca lebih lanjut

Iklan

Survey Konsumen

survey

Haloo….., semoga baik selalu yaa

Kali ini  blognoerhikmat ingin sekali melakukan survey mengenai belanja bulanan. Pastinya para netizen, bloger dan siapapun melakukan aktivitas belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Ada beberapa pertanyaan dibawah ini, mohon diiisi lengkap, tinggal centang  dan klik “vote” saja di setiap pertanyaan, ga ribet koq.

Nanti hasilnya akan di posting supaya menjadi info kita semua.

Segitu aja dulu yaa…

 

Thx All…

Blognoerhikmat

 

 

Prediksi pertumbuhan retail 2014

minimarket

Pejabat Bank Indonesia,  Solihin M Juhro sebagai Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Monoter mengatakan,

Perekonomian global belum kondusif dan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan sehingga perlu penyesuaian ekonomi dalam negeri.

Menurut Solihin pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkiran sebesar 5,5-5,9 persen. Sedangkan pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 5,8-6,2 persen. “Pertumbuhan ekonomi tahun 2013 ini melambat, dan pada tahun 2014 diperkirakan meningkat karena didorong kondisi global yang kondusif dan permintaan domestik yang baik,” katanya.

Akan tetapi di beberapa sektor industri tertentu justru mengalami tingkat stabilitas yang konsisten seiring dengan perilaku konsumen kelas menengah yang terus menggeliat naik. Salah satunya adalah sektor ritel, seperti yang dilakukan riset AC Nielsen,

Pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia dalam kurun 2012-2020 diperkirakan mencapai 174%. Hasil survei AC Nielsen menunjukkan 48% dari total belanja fast moving consumer goods (FMCG) berasal dari masyarakat kelas menengah.

Baca lebih lanjut