BRAND INNOVATION

brandinovation

___________________________________________________________________________________

___________________________________________________________________________________

Another slideshares :

Apakah Anda seorang Pembeli Impulsif ?

belanja-dan-rasa-lapar

Sore yang cerah tidak dilewatkan begitu saja oleh Reni, seorang pekerja di kota metropolitan. Hari itu dalam benak kepalanya,  sudah banyak hal yang ia rencanakan untuk melepas rasa penat di akhir minggu. Pilihannya adalah memilih mengunjungi salah satu mall yang baru saja dibuka. Tentu saja ia mengajak sabahatnya Indri dari departemen yang sama di kantornya.

“Ndri, ikut Aku dong, jalan-jalan ke mall yang baru buka, ada diskon gede-gedean !”  bujuk Reni

“Mau-mau ! gue juga pengen lihat koleksi sepatu di sana yang katanya juga ada diskon, ” sahut Indri yang juga tidak sabar ingin membeli sepatu hak tinggi, sebagai koleksi sepatu kerjanya.

Dan akhirnya, mereka bersepakat untuk pergi jalan-jalan sore,  ke mall yang baru dibuka dan letaknya kebetulan tidak jauh dari tempat kerjanya.
Baca lebih lanjut

Retail Mix, jurus ampuh jualan di toko

retailmix1

Dalam posting tentang ritel sebelumnya menegenai Keunggulan bersaing ritel, dibahas aspek-aspek yang mempengaruhi keunggulan suatu bisnis ritel. Selain aspek-aspek yang sudah dibahas, adalagi jurus ampuh jualan yang disebut Retail Mix, sebagai strategi bauran pemasaran ritel untuk memenangkan pasar.

Definisi Retail Mix yang dimaksud adalah kombinasi aspek ritel dari satu atau lebih dari 6 P.  Setiap pengecer berusaha untuk menemukan kombinasi unik dari faktor-faktor ini dengan tujuan menjadi unggul di pasar sesuai target mereka.

Baca lebih lanjut

smart customers, stupid companies

Smart-Customers-Stupid-Companies-Cover

Baca juga yang lain :

Elizabeth, Tas populer asal Bandung

elizabethTas bermerek Elizabeth, buatan pasangan Handoko Subali dan Elizabeth Halim, layak disebut sebagai tas lokal paling populer. Sebanyak 45 gerai Elizabeth kini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

Lima puluh tahun telah berlalu, sejak pasangan tersebut merintis usaha pembuatan tas di rumahnya. Kini, mesin-mesin modern telah menggantikan mesin jahit yang menjadi modal utama mereka. Kendali perusahaan pun telah beralih pada generasi kedua.

Lima dasawarsa lalu Handoko Subali dan Elizabeth Halim tidak menyangka pilihan bisnis mereka berbuah manis. Di tahun 1963 itulah, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk berbisnis tas.

Kami tak pernah menyangka, usaha ini akan bertahan hingga lima puluh tahun dan menjadi sebesar ini, kata Elizabeth seperti dilansir Kontan.co.id.

sumber foto dari KOMPAS

sumber foto dari KOMPAS

Baca lebih lanjut

Kecap Bango, kecap warisan leluhur

bango1Bango itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka.

Ketika usaha Yunus Kartadinata berkembang, Bango tak lagi cukup hanya bersarang di rumah. Pabrik pertama Kecap Bango diketahui berada di Jalan Asem Lama (sekarang Jalan Wahid Hasyim), Tanah Abang, Jakarta Pusat, persis di belakang gedung Badan Pengawas Pemilu. Namun kawasan itu sudah berubah menjadi deretan rumah perkantoran.

Kerja keras Yunus Kartadinata tak sia-sia. Kecap Bango tumbuh dan populer di Jawa Barat dan Jakarta. Usahanya berkembang menjadi perseroan terbatas, PT Anugrah Indah Pelangi dan PT Anugrah Damai Pratama. Manajemen dikelola anaknya yang keempat, Eppy Kartadinata, pada 1982. Pabriknya kini menempati area seluas delapan hektare di Desa Wantilan, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Pada akhir 2000, keluarga Kartadinata menerima pinangan Unilever. Produsen kebutuhan rumah tangga asal Inggris ini mengakuisisi merek Bango. Brand Manager Bango, Memoria Dwi Prasita, mengatakan kualitas produk Kecap Bango sangat bagus. Potensi pasar lokal pun sangat besar. Itulah alasan Unilever mengakuisisinya.

Sayang, tak ada penjelasan mengapa keluarga Kartadinata menjual Bango. Ketika berusaha mendatangi rumah keluarga ini di Jalan Wahid Hasyim, sekitar 500 meter dari pabrik lama Kecap Bango di Asem Lama. Halaman rumah berpagar hitam tinggi ini dipenuhi tanaman perdu yang kering dan tak terawat. Di depan pintu tampak pengumuman: Disewakan. Menurut penduduk sekitar, terakhir rumah ditempati cucu Yunus Kartadinata, yakni Serli Kartadinata.

Rumah itu jarang ditempati lagi sejak Bango dijual, ujar Edi, petugas satpam di kantor sebelah rumah. Unilever dan keluarga Kartadinata membentuk perusahaan patungan bernama PT Anugrah Lever. Perusahaan ini memproduksi dan memasarkan kecap, sambal, dan saus bermerek Bango. Unilever menguasai 65 persen saham, sisanya 35 persen dimiliki Anugrah Indah Pelangi dan Anugrah Damai Pratama. Pada 2007, Unilever mengakuisisi sisa saham Bango milik keluarga Kartadinata.

Langkah awal setelah akuisisi, Unilever mengubah tampilan merek, logo, dan kemasan Bango. Dulu mereknya Kecap Bango. Pada 1 Februari 2008, mereknya resmi menjadi “Bango. Kemasannya beraroma lebih muda dengan warna-warna segar. Unilever meremajakan Bango, mirip dengan jurus yang digunakan untuk meremajakan kembali Rinsoproduk sabun Unilever yang lifetime mereknya sempat menurun. Kemasan boleh berubah, pemilik memang berganti, tapi ada satu yang tetap dijaga: rasa. Unilever, kata Memoria, sadar betul kekuatan Bango adalah merek dan kualitas produk. Resep pembuatan Bango tetap dipertahankan sesuai dengan formula asli. Bango adalah kecap yang benar-benar kecap, kata Memoria, mengutip tagline Bango.

Sumber : Ciputra Entrepreuneurship

Baca Juga :

Pohon pinang sirup markisa asal medan

Elizabeth tas populer asal bandung