membelah beku kata

beribu mil hampa udara dilalui dengan hening

kucari di samudra awan, belantara kosong saja terserak

disibakkan rumput usang barangkali ia terkubur

tetap saja kesia-sia yang didapat, dimanakah gerangan ?

sudah lama tidak berkata dengan kalimat, dengan paragraf… apalagi judul

yang kutemui hanya  jutaan titik-titik beku yang tersedak

apakah ini tanda kiamat kata-kata ?

entahlah…

atau aku yang tertidur jutaan tahun ?

atau aku yang meninggalkan melodi kata-kata ?

atau sebaliknya, aku yang dilupakan seperti debu yang terhempas ?

Apa artinya sebuah “lihat dengan kata, baca denngan hati”

mungkin sesorang telah memahaminya

ia pun yang hilang dalam beku kata

 

 

 

 

 

 

AKU LELAH BERDAUN

SUMATRA ISLAND, INDONESIA - JUNE 27: A woman walks trough haze as a forrest fire burns bushes and fields June 27, 2013 in Siak Regency, Riau Province, Indonesia. The fires on Sumatra have caused record smog in Malaysia and Singapore. Sumatra has stepped up efforts to fight the fires to relieve the conditions. Eight farmers have been arrested for setting the fires on Sumatra Island. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

SUMATRA ISLAND, INDONESIA – JUNE 27: A woman walks trough haze as a forrest fire burns bushes and fields June 27, 2013 in Siak Regency, Riau Province, Indonesia. The fires on Sumatra have caused record smog in Malaysia and Singapore. Sumatra has stepped up efforts to fight the fires to relieve the conditions. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

Seperti baru kemarin saja aku dilahirkan

di tanah yang tak lagi subur, gembur dan kering

aku hidup seorang diri karena ibuku telah mati diterjang mesin

oleh angkara murka berhati iblis, si penebar maut penyabut nyawa

Aku hidup seperti zombie yang bergentayangan

pakaianku yang compang camping,

mukaku bopeng2,

wangiku seperti bangkai saja, seperti hidup selagi mati

Dilangit tempatku benapas, yang tersisa hanyalah asap  dan asap

semua memutih dan kabur, memandang tanahpun aku tak bisa

ditambah lagi panas terik, dan bau bangkai temanku  yang mati sia2

kulitpun melepuh tak terjamah air yang sudah lama tidak turun dari langit

Aku bisa menghitung daun2 napasku hanya beberapa lembar

yang tersisa seperti uang recehan dalam dompet bututku

pastilah napasku tersengal-sengal, pendek dan berat

di ujung dahan dan ranting hanya tersisa daun2 tua

Sudah cukup !

aku sudah lelah hidup, lelah berdiri, lelah bernapas

biarkan aku mati terbakar bersama jutaan temanku

Aku sudah lelah berdaun….

___________________

Puisi ini didedikasikan atas penderitaan mahluk hidup di pulau Sumatra dan Kalimantan, yang mengalami tragedi kebakaran hutan, akibatnya adalah polusi kabut asap terjadi dimana-mana, ada yang meyebutnya asap jambi, asap riau, asap Pekanbaru dll. Sampai puisi ini diterbitkan, kebakaran hutan masih terjadi atas ulah tangan2 iblis. Sudah banyak korban yang berjatuhan, jutaan pohon terbakar, jutaan manusia tercemar racun asap, jutaan mahluk hidup lainnya dalam kesengsaraan bencana ekologi. Sementara segelintir orang dengan ketamakannya, berusaha lari dari tanggung jawab, sementara yang lainnya hanya bisa saling menyalahkan.

Mari berbuat untuk hidup kita bersama, jangan sampai kita tidak bisa lagi bernapas di langit yang maha luas.

Salam kehidupan

blognoerhikmat

Labirin Mencatat Kata

20150912_170326

Labirin Mencatat Kata – blognoerhikmat

Sebuah buku antologi puisi karya Siti Khodijah Nasution, Wiwiq Siswarahardja dan Usup Supriyadi yang diberi nama “Labirin Mencatat Kata” telah terbit di bulan Mei 2015. Entah apa, mereka memberi judul seperti itu, yang jelas kemerdekaan menghujamkan kata atau judul dalam puisi menjadi hak penuh hasil perenungan mereka bertiga.

Menelisik Kamus Besar Bahasa Indonesia – KBBI, arti “Labirin” disebutnya begini :

labirin/la·bi·rin/n1 tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur; 2 sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit (tentang susunan, aturan, dan sebagainya); 3 sistem rongga atau saluran yang berhubungan;

— akustikAnat telinga bagian dalam yang terdiri atas rumah siput dan saluran setengah lingkaran;
— menyelaputAnat bagian yang menyerupai selaput pada telinga dalam.

Baca lebih lanjut

E r o s

Husband and wife

—-

Eros…

berapa kayuh yang kita jalani
menyusuri pantai yang bercumbu dengan ombak
kala kita yang disatukan dengan kata,
dengan tatapan,
dengan gemuruh yang sama
hingga ribuan kilometer sampai saat ini

Eros…

betapapun kerikil dan angin menghadang
aku tetap mengayuh supaya tetap berjalan
maafkan aku bila membuat tidak nyaman
setiamu membuatku bersemangat
menyusuri pantai demi pantai
kau selalu indah di saat-saat itu

Eros…

ijinkan aku untuk menemanimu
sampai di ujung pantai tujuan kita
di pantai impian
dan aku akan menggenggam jemarimu, menatap wajahmu
dan menikmati semua keindahan
dengan semua cinta yang telah kita lalui

untuk Eros (=cinta) yang setia di sepanjang pantai cinta
always on 2 februari & 2 November

bumi bandhawa

bandhawa

Terbangun geliat raga
oleh ocehan kenari bersahutan

Wewangi pinus yang menggoda
disaat raga ini belumlah tampan

Semburat-semburat mentari di sela dedaunan
menawarkan asa untuk berteriak

Pagi yang teramat sahdu denganya
penawar penat diantara belantara beton

Bersembunyilah dia sehingga misteri
tempat bahasa para burung, pepohonan dan mentari

Serasa di Bumi Bandhawa berada
selagi umur datang akan tetap hinggap seperti burung

:Selepas subuh di kota bunga

my_signature

Puisi untuk Ayah

20120729_142659

Ayah….
terbersit ingatan waktu kecil
kau menatapku dari kejauhan
tidak berkedip mata mengawasi bocah berlarian
sesekali teriakmu menjaga awasku
terasa aman diselingi gelak tawa memecah

Ayah…
sering kau bercerita tentang manusia
diajari aku tentang kerasnya dunia
sering kau bercerita tentang alam semesta
diajari aku mengenal Tuhan Sang pencipta
Kasih dan sayang jadi pelajaran hidup

Ayah…
do’a mu selalu terdengar untuk anakmu
di setiap siang, disetiap malam
di setiap detik ada do’a mu untuk anaknya
di setiap suka maupun duka
terjagalah anakmu bersama Tuhan

Ayah…
sekarang kulitmu sudah keriput dan tak muda lagi
sakitpun silih berganti menderamu
berdiri dan berjalanpun sudah tak mampu
berkata-katapun sudah lemah
tetap saja bersahaja walau demikian

Tuhanku..
aku yang sudah tidak bocah lagi
jadikan waktu dan do’a ku selalu hadir untukmu Ayah
walau jarak jadi pemisah kita
jangan memisahkan batin dan kasih sayang kami untukmu Ayah
kekuatan MU lah yang tetap menyatukan kami

Tuhanku…
sayangilah Ayah sampai akhir hayatnya
mudahkanlah Ayah untuk melewati senjanya
muliakan Ayah di penghujung jalan yang dilaluinya
jadikan kami anak-anaknya selalu mendo’akan Ayah
ijinkan kami membalas semua kebaikan dan kasih sayang Ayah

“Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.