Puisi Juli 2017

Baca lebih lanjut

Puisi Ramadan 2017

Ramadan 2017 #puisi #poems #poetry #ramadhan

A post shared by budinoer (@budinoer) on

Ramadan 2017 #puisi #poems #sajak #poetry #ramadhan

A post shared by budinoer (@budinoer) on

Ramadan 2017 #puisi #poems #sajak #poetry

A post shared by budinoer (@budinoer) on

membelah beku kata

beribu mil hampa udara dilalui dengan hening

kucari di samudra awan, belantara kosong saja terserak

disibakkan rumput usang barangkali ia terkubur

tetap saja kesia-sia yang didapat, dimanakah gerangan ?

sudah lama tidak berkata dengan kalimat, dengan paragraf… apalagi judul

yang kutemui hanya  jutaan titik-titik beku yang tersedak

apakah ini tanda kiamat kata-kata ?

entahlah…

atau aku yang tertidur jutaan tahun ?

atau aku yang meninggalkan melodi kata-kata ?

atau sebaliknya, aku yang dilupakan seperti debu yang terhempas ?

Apa artinya sebuah “lihat dengan kata, baca denngan hati”

mungkin sesorang telah memahaminya

ia pun yang hilang dalam beku kata

 

 

 

 

 

 

AKU LELAH BERDAUN

SUMATRA ISLAND, INDONESIA - JUNE 27: A woman walks trough haze as a forrest fire burns bushes and fields June 27, 2013 in Siak Regency, Riau Province, Indonesia. The fires on Sumatra have caused record smog in Malaysia and Singapore. Sumatra has stepped up efforts to fight the fires to relieve the conditions. Eight farmers have been arrested for setting the fires on Sumatra Island. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

SUMATRA ISLAND, INDONESIA – JUNE 27: A woman walks trough haze as a forrest fire burns bushes and fields June 27, 2013 in Siak Regency, Riau Province, Indonesia. The fires on Sumatra have caused record smog in Malaysia and Singapore. Sumatra has stepped up efforts to fight the fires to relieve the conditions. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

Seperti baru kemarin saja aku dilahirkan

di tanah yang tak lagi subur, gembur dan kering

aku hidup seorang diri karena ibuku telah mati diterjang mesin

oleh angkara murka berhati iblis, si penebar maut penyabut nyawa

Aku hidup seperti zombie yang bergentayangan

pakaianku yang compang camping,

mukaku bopeng2,

wangiku seperti bangkai saja, seperti hidup selagi mati

Dilangit tempatku benapas, yang tersisa hanyalah asap  dan asap

semua memutih dan kabur, memandang tanahpun aku tak bisa

ditambah lagi panas terik, dan bau bangkai temanku  yang mati sia2

kulitpun melepuh tak terjamah air yang sudah lama tidak turun dari langit

Aku bisa menghitung daun2 napasku hanya beberapa lembar

yang tersisa seperti uang recehan dalam dompet bututku

pastilah napasku tersengal-sengal, pendek dan berat

di ujung dahan dan ranting hanya tersisa daun2 tua

Sudah cukup !

aku sudah lelah hidup, lelah berdiri, lelah bernapas

biarkan aku mati terbakar bersama jutaan temanku

Aku sudah lelah berdaun….

___________________

Puisi ini didedikasikan atas penderitaan mahluk hidup di pulau Sumatra dan Kalimantan, yang mengalami tragedi kebakaran hutan, akibatnya adalah polusi kabut asap terjadi dimana-mana, ada yang meyebutnya asap jambi, asap riau, asap Pekanbaru dll. Sampai puisi ini diterbitkan, kebakaran hutan masih terjadi atas ulah tangan2 iblis. Sudah banyak korban yang berjatuhan, jutaan pohon terbakar, jutaan manusia tercemar racun asap, jutaan mahluk hidup lainnya dalam kesengsaraan bencana ekologi. Sementara segelintir orang dengan ketamakannya, berusaha lari dari tanggung jawab, sementara yang lainnya hanya bisa saling menyalahkan.

Mari berbuat untuk hidup kita bersama, jangan sampai kita tidak bisa lagi bernapas di langit yang maha luas.

Salam kehidupan

blognoerhikmat

Labirin Mencatat Kata

20150912_170326

Labirin Mencatat Kata – blognoerhikmat

Sebuah buku antologi puisi karya Siti Khodijah Nasution, Wiwiq Siswarahardja dan Usup Supriyadi yang diberi nama “Labirin Mencatat Kata” telah terbit di bulan Mei 2015. Entah apa, mereka memberi judul seperti itu, yang jelas kemerdekaan menghujamkan kata atau judul dalam puisi menjadi hak penuh hasil perenungan mereka bertiga.

Menelisik Kamus Besar Bahasa Indonesia – KBBI, arti “Labirin” disebutnya begini :

labirin/la·bi·rin/n1 tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur; 2 sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit (tentang susunan, aturan, dan sebagainya); 3 sistem rongga atau saluran yang berhubungan;

— akustikAnat telinga bagian dalam yang terdiri atas rumah siput dan saluran setengah lingkaran;
— menyelaputAnat bagian yang menyerupai selaput pada telinga dalam.

Baca lebih lanjut

Heroik untuk 70 tahun Kemerdekaan

70th_2

……..Tempo Dulu

Aku dan bambu runcing, sehati sekawan melawan jahanam

Mengaku bersatu dengan semangat begelora menebas rasa takut

Tidak hanya satu bahkan seratus…seribu…sejuta musuh pun !, kami hadapi !!

Hai Penjajah …, aku di sini !, dimana kamu ?!

Nyawa kami hanya kecil untuk sebuah arti kemerdekaan

Jangan tanya padaku bila aku mati, tapi tanya aku kapan merubuhkan tembok penjajah

Karena itu, aku dan bambu runcing siap menuju medan perang

……Tempo Sekarang

Aku dan moral, sehati sekawan melawan ketamakan

Mengaku bersatu dengan pengetahuan bergelora menebas kemiskinan

Tidak hanya kepintaran tapi juga bermoral, kami harus berdiri tegak bermartabat

Hai koruptor…aku disini !, dimana kamu ?!

Harga diri adalah taruhan untuk sebuah arti Kemerdekaan

Malulah Aku, bila kebodohan dan kemiskinan berada di sekeliling kita

Karena itu, Aku dan moral siap melawan kezaliman hati

SALAM MERDEKA !!!

______________________________________

Heroik untuk 70 tahun Kemerdekaan

my_signature

Terkubur

image

Kucari awan dilangit
Tapi hilang ditelan biru
Kucari angin sepoi
Kudapat hujan badai
Kucari di serombongan orang
Hanya cerita hebat yang ada

Di kilas balik tersadar
Bila detak jantung melemah
Tanda hidup tinggal menipis
Diriung ceuk sunda
Didu’a karena lemah
Dibezuk karena silaturahim
Dilihat tetap saja diam tapi mendengar

Kucari matahari sekali lagi
Kudapat gerhana bekas-bekasnya
Disela-sela rumput disibakkan
Di antara tanah basah digaruk
Ada tanda-tanda yang kucari
Apa gerangan dibalik tanah basah ?

Bilakah dia..?
Menahan haru saja tak sanggup
Mengapa harus dia..?
Aku takut bertanya demikian
Kenapa harus kami ..?
Itu pun kami tidak berhak

Akhirnya kuhentikan pencarianku
Kuberharap berhenti adalah ikhlas
Kutatap langitnya langit
Dengan sendu sebari memohon
” Allohumagfir lahu warhamhu wa a’afihi wafuanhu ”
Dilarung ke langit menemui Nya

Seutuhnya untuk sang arwah
Karena hanya jasad saja didalam tanah
Terkubur karena wafat
Terkubur karena habis waktu
Terkubur karena kembali jadi tanah.
Terkubur karena Sang Khalik menagih janji

Cianjur 16 Februari 2015
7 hari setelah wafatnya Ayahanda RH.Trusnadi Djamil