Gepuk Lidah Hj.Lilis

Gepuk Lidah

editcow2Lidah sapi bila diolah dengan tepat bisa menjadi makanan yang lezat. Dari resep pusaka Hj.Lilis mengolah lidah sapi menjadi Gepuk Lidah yang rasanya lezat, dengan tekstur daging yang lembut , marinet Gepuk Lidahberasa manis yang pas dan cara memasak yang tepat menjadi pilihan makanan keluarga untuk dihidangkan. Gepuk Lidah Hj.Lilis bisa diorder untuk seputar kota Bandung dengan harga yang sesuai untuk masakan yang lezat. Untuk sementara kami melayani porsi paket Gepuk Lidah.

Untuk open order bisa via :

WA/HP : 0817-420-833-BUDI, atau 0818-094-283-31-ULAN.

Juga bisa langsung saja ke lokasi :

Komp. Pharmindo Jl.Kalasan Raya Blok N no.2 Cimahi Selatan, Jawa Barat

Khusus buat Ramadhan 2017, kami menyediakan paket lebaran dengan harga Rp.250.000, per satu bahan baku lidah sapi utuh dengan hasil olahan berupa Gepuk Lidah seberat kurang lebih 1 kg, free ongkir untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.

Lihat pos aslinya

HighFive Food Market, pusat kuliner kekinian di tengah kota Bandung

h5_7-Logo High Five Food Market

HighFive Food Market

Kota Bandung sering dijuluki tagline Bandung Juara, pastinya juaranya tentang kreatifitas dan kulinernya. Setiap hari ada saja pusat kuliner yang baru di kota ini, salah satunya adalah HighFive Food Market yang baru saja dibuka pertengahan bulan Mei 2017 di Grand Yogya Kepatihan.

Baca lebih lanjut

Sejarah GEDUNG SATE Bandung

Sejarah GEDUNG SATE selalu dihubungkan dengan ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda atau IKON Kota Bandung. Seperti sejarah gedung2 yang lain, maka sejarah gedung sate menjadi sangat menarik karena gedung sate berdirinya di kota yang relatif baru pada saat itu. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.

gedung sate4Foto Gedung Sate

Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum pada tanggal 27 Juli 1920, merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir.J.Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok, yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung).

Baca lebih lanjut

Batagor, baso tahu goreng kuliner Bandung

Batagor Isan

Mendengar nama Batagor Isan,batagor Riri, batagor kingsley dan batagor-batagor lainnya,pasti sudah tidak asing lagi sebagai kuliner Bandung yang terkenal bagi warga dalam dan luar Bandung. Sudah tentu, kitapun paham kalimat Batagor adalah singkatan dari baso tahu goreng. Namun pada postingan kali ini akan dibahas tentang asal usul batagor dan tempat-tempat kuliner batagor enak yang ada di Bandung.

Nama batagor mungkin tidak akan pernah ada kalau kejadian di tahun 1970, seorang pedagang baso tahu siomay keliling bernama Isan melakukan percobaan dengan dagangannya. Isan mendapatkan baso tahu siomay-nya beberapa kali bersisa, sehingga ia berinisiatif untuk menggorengnya supaya bisa dimakan kembali dan disajikan dengan kuah kacang baso tahu. Ternyata upaya tersebut berhasil, banyak orang yang suka dimulai dari para tetangganya, dan akhirnya Isan memutuskan untuk menjual gorengannnya yang disebut batagor. H.Isan sendiri telah wafat di tahun 2008, sedangkan usaha batagro-nya dikelola oleh generasi kedua dari keluarga H.Isan.
Baca lebih lanjut

Sejarah Kota Bandung

Gedung-Sate

SEJARAH KOTA BANDUNG

Kata “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa sejarah nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sejarah Sunda, kata “Bandung” berasal dari kalimat “Nga-Bandung-an Banda Indung”, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-“Bandung”-an artinya menyaksikan atau bersaksi. “Banda” adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. “Indung” adalah Bumi, disebut juga sebagai “Ibu Pertiwi” tempat “Banda” berada. Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai “Banda”. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah “Banda Indung”, yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfir adalah tempat yang menyaksikan, “Nu Nga-Bandung-an”. Yang disebut sebagai Wasa atau Sanghyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa. Begitulah sekelumit sejarah singkat terbentuknya kota Bandung
Baca lebih lanjut

Milangkala Bandung Festivals 2015

Milangkala Bandung Festivals 2015 – Menyambut Mialangkala (HUT) kota Bandung yang ke-205 yang tepatnya tanggal 25 September 2015, Kota Bandung sedang mempersiapkan rangkaian acara untuk merayakannya. Beberapa rangkaian acara sudah dimulai dari tanggal 10 September sampai pertengahan bulan Oktober nanti. Bertajuk Milangkala Bandung Festivals 2015 ‘A City Festivity in Celebrating 205 Years of Bandung City’, puluhan acara akan ada di kota Bandung yang dikordinir oleh Pemkot Bandung.

Selama rangka Milangkala Bandung 205, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, terdapat 32 rangkaian kegiatan yang dimulai sejak tanggal 16 Agustus lalu. “Tidak melulu festival. 32 event itu sudah termasuk ziarah ke makam dan paripurna,” kata Kenny.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Herlan JS menjelaskan,“Nantinya para seniman akan tampil di event Barok Of ArtlIiens menampilan berbagai seni budaya Indonseia di Jalan Ir H Djuanda 25-27 September 2015, serta pada 24 Oktober 2015 kegiatan festival kuliner di Balai Kota,”. Dari pernyataan para pejabat pemerintah kota Bandung terlihat dengan jelas keinginan untuk meramaikan milangkala kota Bandung dengan terencana dan meriah.

Ketua Tim Milangkala Bandung Festivals 2015, Galih Sedayu, menjelaskan kegiatan-kegiatan yang ada dalam HUT Kota Bandung akan melibatkan partisipasi dari seluruh kelompok masyarakat Kota Bandung mulai dari pemerintah, akademikus, swasta hingga komunitas.

milangkala Bandung Festivals

Elizabeth, Tas populer asal Bandung

elizabethTas bermerek Elizabeth, buatan pasangan Handoko Subali dan Elizabeth Halim, layak disebut sebagai tas lokal paling populer. Sebanyak 45 gerai Elizabeth kini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

Lima puluh tahun telah berlalu, sejak pasangan tersebut merintis usaha pembuatan tas di rumahnya. Kini, mesin-mesin modern telah menggantikan mesin jahit yang menjadi modal utama mereka. Kendali perusahaan pun telah beralih pada generasi kedua.

Lima dasawarsa lalu Handoko Subali dan Elizabeth Halim tidak menyangka pilihan bisnis mereka berbuah manis. Di tahun 1963 itulah, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk berbisnis tas.

Kami tak pernah menyangka, usaha ini akan bertahan hingga lima puluh tahun dan menjadi sebesar ini, kata Elizabeth seperti dilansir Kontan.co.id.

sumber foto dari KOMPAS

sumber foto dari KOMPAS

Baca lebih lanjut