BRAND INNOVATION

brandinovation

___________________________________________________________________________________

___________________________________________________________________________________

Another slideshares :

Adidas, Bermula dari bisnis sendal jepit

adidas

Sejarah Adidas dimulai di Herzogenaurach, Jerman pada tahun 1920. Dua bersaudara Adolf (Adi) Dassler dan Rudolph Dassler pada awalnya hanya memproduksi sandal jepit dan selop. Pada suatu hari di tahun 1925, Adi berhasil merancang sepasang sepatu olahraga, dan sejak itu usaha perbaikan dan pengembangan dalam bidang sepatu pun terus dilakukan.

Baca lebih lanjut

Pohon Pinang, sirup markisa asal Medan

markisa2Berawal dari memasok jus markisa kepada tukang cendol di pinggir jalan, Razali Chuwardi bertekad untuk mengembangkan usaha tersebut menjadi sebuah industri modern. Tekad itu, kini menjadi kenyataan. PT Majujaya Pohon Pinang-perusahaan penghasil jus markisa Pohon Pinang-menjadi pemimpin pasar di Sumatra.

Sejak pengolahan markisa dibangun oleh ayahnya 40 tahun lalu, Razali Chuwardi sudah ikut aktif dan terlibat menjajakan juice kepada tukang cendol di pinggir jalan. Waktu itu, lanjutnya, produksi jus markisa yang diproduksi sang ayah belum begitu dikenal masyarakat. Seiring berlalunya waktu, Razali Chuwardi, dipercaya sang ayah untuk meminpin usahanya.

Razali menilai berbagai merek jus markisa yang diproduksi ayahnya, harus disatukan menjadi satu merek yakni Pohon Pinang yang bernaung di bawah bendera PT Majujaya Pohon Pinang.

Markisa3Pemilihan nama Pohon Pinang, katanya, karena di Indonesia pinang sudah dikenal dan digunakan oleh orang tua zaman dulu bisa tumbuh di segala tempat. “Karena itu saat ini, kalau ingat pohon pinang kami berharap asosiasi fikiran orang tentu akan ingat jus markisa,” tuturnya.

Razali yang kini sudah berusia 61 tahun menyerahkan kendali usahanya kepada dua anaknya yaitu Gunawan Chuwardi (presdir) dan Peter Chuwardi (direktur). “Saya tinggal mengawasi perusahaan tersebut dan duduk sebagai preskom,” kata dia.

Tampaknya di tangan Gunawan Chuwardi, Majujaya Pohon Pinang berlari lebih kencang lagi. Pabrik modern dengan investasi Rp10 miliar di atas areal 1,5 hektare beroperasi sudah. “Kami sudah mengoperasikan mesin-mesin modern dan canggih antara lain mesin pembotolan dan tutup botol, pelabelan, dan mesin penyegelan botol yang bekerja secara otomatis.”

Mesin-mesin modern tersebut, tuturnya, dipasang untuk memenuhi target pasar yang tumbuh sekitar 40% per tahun. “Kami sudah lama menjadi pemimpin pasar di Medan sekitarnya. Saat ini pasar Sumatra sudah kami pimpin,” tuturnya.

Dia optimistis merek Pohon Pinang yang diusungnya akan menjadi merek nasional, karena pohon pinang dapat tumbuh di mana saja di Tanah Air ini. (*/dari berbagai sumber)

Sumber : Ciputra Entreupreunership

Baca Juga :

Elizabeth tas populer asal bandung

Kecap bango kecap warisan leluhur

Elizabeth, Tas populer asal Bandung

elizabethTas bermerek Elizabeth, buatan pasangan Handoko Subali dan Elizabeth Halim, layak disebut sebagai tas lokal paling populer. Sebanyak 45 gerai Elizabeth kini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

Lima puluh tahun telah berlalu, sejak pasangan tersebut merintis usaha pembuatan tas di rumahnya. Kini, mesin-mesin modern telah menggantikan mesin jahit yang menjadi modal utama mereka. Kendali perusahaan pun telah beralih pada generasi kedua.

Lima dasawarsa lalu Handoko Subali dan Elizabeth Halim tidak menyangka pilihan bisnis mereka berbuah manis. Di tahun 1963 itulah, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk berbisnis tas.

Kami tak pernah menyangka, usaha ini akan bertahan hingga lima puluh tahun dan menjadi sebesar ini, kata Elizabeth seperti dilansir Kontan.co.id.

sumber foto dari KOMPAS

sumber foto dari KOMPAS

Baca lebih lanjut

Kecap Bango, kecap warisan leluhur

bango1Bango itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka.

Ketika usaha Yunus Kartadinata berkembang, Bango tak lagi cukup hanya bersarang di rumah. Pabrik pertama Kecap Bango diketahui berada di Jalan Asem Lama (sekarang Jalan Wahid Hasyim), Tanah Abang, Jakarta Pusat, persis di belakang gedung Badan Pengawas Pemilu. Namun kawasan itu sudah berubah menjadi deretan rumah perkantoran.

Kerja keras Yunus Kartadinata tak sia-sia. Kecap Bango tumbuh dan populer di Jawa Barat dan Jakarta. Usahanya berkembang menjadi perseroan terbatas, PT Anugrah Indah Pelangi dan PT Anugrah Damai Pratama. Manajemen dikelola anaknya yang keempat, Eppy Kartadinata, pada 1982. Pabriknya kini menempati area seluas delapan hektare di Desa Wantilan, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Pada akhir 2000, keluarga Kartadinata menerima pinangan Unilever. Produsen kebutuhan rumah tangga asal Inggris ini mengakuisisi merek Bango. Brand Manager Bango, Memoria Dwi Prasita, mengatakan kualitas produk Kecap Bango sangat bagus. Potensi pasar lokal pun sangat besar. Itulah alasan Unilever mengakuisisinya.

Sayang, tak ada penjelasan mengapa keluarga Kartadinata menjual Bango. Ketika berusaha mendatangi rumah keluarga ini di Jalan Wahid Hasyim, sekitar 500 meter dari pabrik lama Kecap Bango di Asem Lama. Halaman rumah berpagar hitam tinggi ini dipenuhi tanaman perdu yang kering dan tak terawat. Di depan pintu tampak pengumuman: Disewakan. Menurut penduduk sekitar, terakhir rumah ditempati cucu Yunus Kartadinata, yakni Serli Kartadinata.

Rumah itu jarang ditempati lagi sejak Bango dijual, ujar Edi, petugas satpam di kantor sebelah rumah. Unilever dan keluarga Kartadinata membentuk perusahaan patungan bernama PT Anugrah Lever. Perusahaan ini memproduksi dan memasarkan kecap, sambal, dan saus bermerek Bango. Unilever menguasai 65 persen saham, sisanya 35 persen dimiliki Anugrah Indah Pelangi dan Anugrah Damai Pratama. Pada 2007, Unilever mengakuisisi sisa saham Bango milik keluarga Kartadinata.

Langkah awal setelah akuisisi, Unilever mengubah tampilan merek, logo, dan kemasan Bango. Dulu mereknya Kecap Bango. Pada 1 Februari 2008, mereknya resmi menjadi “Bango. Kemasannya beraroma lebih muda dengan warna-warna segar. Unilever meremajakan Bango, mirip dengan jurus yang digunakan untuk meremajakan kembali Rinsoproduk sabun Unilever yang lifetime mereknya sempat menurun. Kemasan boleh berubah, pemilik memang berganti, tapi ada satu yang tetap dijaga: rasa. Unilever, kata Memoria, sadar betul kekuatan Bango adalah merek dan kualitas produk. Resep pembuatan Bango tetap dipertahankan sesuai dengan formula asli. Bango adalah kecap yang benar-benar kecap, kata Memoria, mengutip tagline Bango.

Sumber : Ciputra Entrepreuneurship

Baca Juga :

Pohon pinang sirup markisa asal medan

Elizabeth tas populer asal bandung

Mendengar Kisah Kesuksesan Starbucks Langsung Dari Howard Schultz.

Bukti sukses Howard Schultz di Starbucks, dan coba amati kata2 ini “…drive growth, but only on the land of humanity”- & “ exceeding expectation to people”
silahkan simak cerita mba Ni Made Sri Andani :

nimadesriandani

Howard Schultz 1Saya merasa sungguh beruntung ketika Rabu kemarin pagi, saya bisa ikut breakfast meeting di auditorium Kementrerian Perdagangan. Acara yang dibuka oleh Menteri Perdagangan Gita Wiryawan itu menghadirkan Howard Schultz, Chairman, President &CEO dari Starbucks Coffee Company untuk sharing tentang kunci kesuksesannya dalam mengelola brand Starbucks.  Walaupun saya duduk agak jauh di belakang, namun saya melihat banyak pejabat dan pengusaha yang menghadiri acara itu termasuk diantaranya Peter Gonta dan Ketua Kadin Suryo B Sulistio. Dari kejauhan saya juga melihat Mr V P Sharma, mantan boss saya sewaktu masih bekerja di Mitra Adiperkasa. Beliau terlihat sangat sibuk, sehingga saya tidak melihat kesempatan untuk menyapanya. Acara itu memang diprakarsai oleh MAP sebagai pemegang merk Starbucks di Indonesia.

Saya merasa sangat terkesan akan sharing yang dilakukan oleh Howard Schultz .  Ia memberi  dua rahasia sukses sebuah bisnis yang menurutnya tidak pernah diajarkan di sekolah maupun di buku-buku bisnis, yakni “Love & Humanity”.Sangat inspiratif…

Lihat pos aslinya 768 kata lagi