Kirisis Moneter 2015 samakah dengan Kirisis Moneter 1998 ?

kiismon 2015

Semua orang Indonesia di tahun 2015 banyak yang khawatir tentang krisis moneter seperti yang terjadi pada krisis moneter 1998. Banyak yang panik melihat nilai tukar rupiah saat ini terus bergejolak dan melorot nilainya terhadap dolar AS. Bahkan ada yang mengaitkan dengan potensi krisis ekonomi yang dalam karena kecemasan atas berbagai faktor, terutama dengan kian menguatnya ekonomi AS dan tentu saja menopang nilai tukar dolar AS.

Bank Indonesia pun sudah melakukan uji yang disebut stress test, dan menyebutkan bahwa sistem ekonomi dan keuangan Indonesia masih akan mampu bertahan, sekalipun rupiah sampai melemah menjadi Rp15.500 per dolar AS. Dan peluang pelemahan rupiah ke arah level itu pun, banyak yang melihat, kecil kemungkinan terjadi.

Sebagai gambaran apa yang terjadi, mari kita lihat video berikut ini :


Dan tahukah Anda, banyak perbedaan antara gejolak rupiah saat ini dengan krisis moneter 1998 dan krisis global 2008?

1. Efek Penularan Regional: Phatphong Effect

Tahun 1998, krisis moneter yan sering disingkat krismon terjadi karena dampak penularan krisis Asia terhadap Indonesia yang berlangsung begitu cepat. Ketika Thailand mengalami krisis baht sejak Juli 1997, Indonesia kemudian tertular, yang oleh para analis kala itu disebut sebagai “Phatphong Effect”. Istilah ini merujuk pada satu lokasi di Bangkok, yang menjadi tempat hiburan malam.

Karena efek penularan itu, apalagi dipersepsikan semua negara atau perekonomian yang masuk kelompok berkembang pesat (emerging markets) dianggap sama dengan Thailand, maka rontoklah ekonomi Asia Tenggara. Dan dampak terbesar dirasakan Indonesia, karena nilai tukar rupiah yang tadinya dikelola dalam sistem “managed float”, yang berarti nilai kurnya dikendaikandalam kisaran angka (band) tertentu oleh Bank Indonesia –mirip penentuan harga BBM– kemudian dilepas ke pasar mulai 14 Agustus 1997.

Sejak pelepasan band menjadi free float itu, nilai tukar rupiah yang tadinya di level Rp2.500-an, bergerak liar dan sempat menembus level Rp16.700 per dolar AS pada 1998. Maka semua perusahaan yang punya utang dolar menjadi kolaps.

Saat ini, efek kejutan seperti 1998 relatif tidak ditemukan karena rupiah bergerak sesuai harga pasar. Tidak ada devaluasi atau pergerakan yang drastis, sehingga dampak ekonomi lebih terprediksikan dan terkelola, dan risiko spekulasi tidak terlalu massive, seperti terjadi saat nilai rupiah masih dipatok dan dikelola secara “mengambang terkendali” seperti sebelum tahun 1998.

2. Fundamental Ekonomi: Rapuh vs Relatif Solid

Pada 1998, fundamental ekonomi Indonesia memang benar-benar rapuh. Cadangan devisa sempat elorot bahkan hingga di angka hanya US$15 miliar (Menurut penuturan pejabat BI kala itu bahkan disebutkan di bawah US$10 miliar). Saat itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang terbaik hanya berkisar di angka US$21 miliar – US$25 miliar, sementara beban utang begitu besar. Debt to GDP ratio bahkan sempat mencapai 60%, yang berarti penghasilan dari ekspor dan kekayaan Indonesia hanya habis untuk membayar utang.

Jauh sebelum 1998, pemerintahan Soeharto pernah mengatakan nggak perlu khawatir soal utang Indonesia, karena aset BUMN relatif besar untuk membayar utang. Akhirnya kejadian, pemerintah harus menjual aset (privatisasi) BUMN untuk menombok kewajiban negara, bahkan membiayai APBN untuk membiayai penyelenggaraan negara termasuk menggaji pegawai negeri.

Saat ini, situasi jauh berbeda. Cadangan devisa sudah melampaui US$111 miliar, dan rasio utang terhadap GDP relatif rendah.

Namun persoalan yang kini dihadapi adalah defisit transaksi berjalan akibat pertumbuhan konsumsi domestik yang besar, dan harus dipenuhi dari impor. Begitu pula industri manufaktur pun harus mengimpor bahan baku atau barang modal. Indonesia juga impor bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar karena kilang di dalam negeri sudah uzur. Masalah struktural inilah yang perlu diselesaikan, untuk mengatasi tekanan defisit transaksi berjalan.

3. Pada 1998, Kondisi Sistem Perbankan Sakit Kronis

Bedanya lagi, krismon 1998 begitu dalam, hingga nilai ekonomi Indonesia anjlok -13% lebih. Gejolak nilai tukar kemudian menghantam sistem perbankan dan aktivitas ekonomi yang memicu pemecatan karyawan (PHK) secara massal. Bank-bank yang memperoleh pinjaman sindikasi dari luar negeri terpukul bertubi-tubi, bukan hanya terkena jepitan ganda.

Perusahaan yang menjadi nasabah (debitur) perbankan saat itu tak sanggup membayar pinjaman, sehingga kredit macet berjibun. Bank-bank kemudian kolaps, dan terpaksa dilikuidasi atau ditutup oleh pemerintah. Likuidasi perbankan bersifat massal, tingkat kepercayaan terhadap sistem perbankan ambrol.

Akibatnya, terjadilah rush atau pencairan dana nasabah besar-besaran yang terjadi di mana-mana, sehingga pemerintah menyuntik dana (bailout) ke dalam sistem perbankan hingga ratusan triliun rupiah. Beban obligasi pemerintah untuk bailout besar-besaran itu bahkan masih tersisa hingga saat ini.

Sebaliknya, sekarang ini sistem perbankan jauh lebih sehat, lebih transparan, akuntabel, dan tidak mengalami masalah likuiditas, relatif bebas dari mismatch pendanaan,  dan kredit macet yang besar seperti tahun 1998.

4. Kebijakan masa lalu Sarat Vested Interest dan KKN

Hal ini menyebabkan ketidakpuasan politik yang meluas, bukan hanya di kalangan politisi aktivis, tetapi juga kalangan aktivis mahasiswa.

Para pengusaha serta pemilik modal sejak pertengahan 1997 sudah mulai berjaga-jaga dan memindahkan dana ke luar negeri.Capital outflow atau aliran modal keluar mulai terjadi sejak akhir 1997, yang memperburuk posisi fundamental ekonomi dan menjatuhkan nilai tukar rupiah.

5. Terdapat Risiko Politik: Krisis Kepercayaan Terhadap Pemerintahan Presiden Soeharto pada 1998

Ketidakpuasan terhadap sistem politik pada dekade 1990-an itu memicu ketidakpuasan terhadap rezim pemerintahan. Sejak akhir 1997, demonstrasi merebak di berbagai tempat, menuntut suksesi kepemimpinan hingga awal 1998.

Kondisi gejolak politik ini menyebabkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Orde Baru ketika itu anjlok, dan perekonomian Indonesia menjadi korban dari penarikan uang dalam jumlah besar-besaran oleh pemodal asing (capital flight). Bahkan juga pemodal dalam negeri membawa kabur uangnya ke luar negeri. Ini yang menjadi pemicu rupiah anjlok besar-besaran.

Setelah demokratisasi berlangsung hingga saat ini, praktik nepotisme sudah jauh berkurang, keterbukaan informasi berlangsung dengan lebih baik, dan kini tingkat kepercayaan terhadap pemerintah relatif jauh lebih baik. Demo kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu juga berlangsung singkat, dan kini relatif sudah normal kembali. Artinya, risiko politik saat ini relatif jauh lebih rendah.

6. Pada Krisis 1998, Campurtangan Internasional Melalui IMF Mengakibatkan Indonesia tidak Memiliki Kemandirian Kebijakan

Faktor lain atau kelemahan lain pada tahun 1998 dan beberapa tahun kemudian adalah kurangnya kemandirian pemerintah dalam mendisain kebijakan ekonomi dan anggaran, karena dikendalikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) lantaran Indonesia memperoleh pinjaman talangan dari lembaga itu.

Semua kebijakan ekonomi pemerintah harus mendapatkan persetujuan IMF, dan manakala kebijakan yang disetujui dalam letter of intent yang ditandatangani pejabat pemerintah ada yang tidak terlaksana karena satu dan lain sebab, dana talangan tidak dicairkan oleh IMF. Ini yang selalu memicu pelemahan nilai tukar rupiah, kendati Indonesia sudah berada dalam pengawasan IMF, yang semestinya mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi.

Bedanya dengan sekarang, kebijakan pemerintah Indonesia relatif mandiri, tidak didikte oleh kekuatan eksternal, dan pemerintah dapat mendisain kebijakan lebih leluasa sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia.

7. Pada 2008, Terdapat Efek Lehman Brothers, Subprime Mortgage dan Krisis Global

Saat ini, faktor dominan pelemahan rupiah adalah kebangkitan kembali perekonomian Amerika yang sudah terjadi sejak tahun silam, melalui tahapan yang disebut penarikan kembali obligasi (tapering) dan kenaikan suku bunga the Fed. Orang menyebutnya dolar pulang kandang ke Amerika. Ini adalah faktor ekonomi yang rasional, mekanisme pasar.

Bedanya dengan 2008, pada saat itu pemicu krisis rupiah adalah banyaknya perusahaan di Indonesia yang tersangkut oleh obligasi sampah subprime mortgage di Amerika, yang menyebabkan Lehman Brothers hancur. Ini faktor bad governance yang memicu krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan di AS kala itu.

Bank-bank di Indonesia saat itu juga mengalami kesulitan likuiditas. Puncaknya adalah krisis Bank Century yang gagal kliring pada 13 November 2008, yang kemudian mendapatkan suntikan dana (bail out) dari pemerintah. Bahkan kasus Century hingga  saat ini masih berkepanjangan secara politik dan hukum.

Selain itu, tanda-tanda krisis global juga berkecamuk pada 2008, menyusul kemudian krisis Yunani yang memukul perekonomian Uni Eropa, yang menyebabkan harga komoditas kolaps, ekspor merosot, dan memicu ketidakseimbangan ekonomi global

8. Peta Perekonomian Global Sudah Berubah

Berbeda dengan 1998, peta ekonomi global saat ini sudah berubah. Dominasi Amerika dan Eropa sudah menyusut, digantikan oleh dominasi China dan India. Benchmark ekonomi gklobal saat ini bukan lagi Amerika Serikat, tetapi perekonomian China.

Meski begitu, isu mengenai ekonomi AS masih tetap menjadi acuan, karena portofolio pengelolaan dana berbasis dolar AS masih tetap tinggi. Namun, isu kenaikan suku bunga di Amerika Serikat pada akhirnya akan berujung pada rasionalitas kembalian modal (return on investment). Akan hal ini, banyak yang percaya, return in investment di Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan investasi di Eropa atau bahkan Amerika. Daya beli konsumen Indonesia –dan Asia Tenggara– juga terus meningkat, sehingga kawasan ini akan tetap menarik untuyk menanamkan modal hingga beberapa dekade mendatang.

Dengan kata lain, gejolak nilai tukar akan senantiasa bersifat sementara, sebagai ampak reaksi pasar yang wajar, dan sebagai bagian dari proses menemukan keseimbangan baru. Pada akhirnya, ujungnya akan sangat tergantung pada respon kebijakan domestik untuk menenangkan pasar.

9. Saluran Informasi yang Lebih Terbuka dan Bebas, Meminimalkan Informasi Asimetris yang Memicu Spekulasi

Faktor pembeda lain dari masa 1998 adalah saluran informasi publik yang lebih bebas dan terbuka. Pada saat krismon 1998, banyak terjadi ketidakadilan dan ketidakseimbangan informasi publik, karena informasi penting yang mempengaruhi perekonomian  dan kebijakan menjadi ‘milik’ kelompok yang dekat dengan pembuat kebijakan, lantaran pers yang masih dikendalikan penguasa dan belum bebas.

Akibatnya, praktik spekulasi terhadap kebijakan, termasuk terhadap bisnis dan ekonomi serta finansial, kerap terjadi dan membuat perubahan-perubahan mendadak dan mengagetkan yang berdampak ‘rusuh’ bagi perekonomian.

Sebaliknya, saat ini informasi publik begitu terbuka, yang dapat diakses oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan termasuk pelaku bisnis, trader dan masyarakat awam. Ini mengurangi efek negatif informasi asimetris, yang menekan praktik spekulasi terhadap sektor keuangan.

10. Sistem Politik Saat Ini Lebih Demokratis

Tidak kalah penting adalah sistem politik yang lebih demokratis, kendati masih terus mencari bentuk dan menjalani proses pematangan. Ssistem politik demokratis ibarat sistem ekonomi yang lebih terbuka dan mengikuti kaidah mekanisme pasar, sehingga mengurangi efek kejutan dan perubahan-perubahan yang mendadak dan spekulatif.

Dengan demikian, perubahan lebih terprediksikan dan lebih terukur. Dengan demikian, risiko ekonomi pun lebih terkalkulasi dengan lebih akurat. Kondisi politik ini memberikan bantalan lebih empuk terhadap kemungkinan terjadinya perubahan ekonomi yang drastis, karena menekan faktor krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang datang secara tiba-tiba.

Dari paparan diatas, sudah jelas memang krisis moneter 2015 dengan berbeda dengan krisis moneter 1998. Hanya saja masih meninggalkan pekerjaan rumah yang berat, yaitu : seberapa sigap pemerintahan JOKOWI dalam mengimplemtasi rencana-rencana menghadapi situasi moneter 2015 dan seberapa kuat konsolidasi kabinet pemerintah ?, supaya tidak menjadi sentimen-sentimen negatif yang justru memperlemah Rupiah.

Sumber :

  • market.bisnis.com
  • YouTube

tinggalkan jejak kata.....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s