Penyakit Jantung Bawaan, angka kematian tinggi anak

PJB1Keterbatasan tenaga spesialis jantung anak maupun bedah jantung  di tengarai sebagai penyebab masih tingginya angka kematian bayi indonesia. Penyakit jantung bawaan menempati peringkat pertama diantara penyakit-penyakit lain yang menyerang bayi. Selain  terbatas, distribusi tenaga spesialis juga belum merata di seluruh kota besar.

Awalnya Rinto tak terlalu merisaukan kesehatan anak semata wayangnya, Desta. Seperti kebanyakan anak seusianya, Desta bermain lepas. Dengan usianya yang tengah duduk di taman kanak-kanak, ia telah menemukan dunianya yakni beramain. Desta termasuk aktif, berbagai permainan ia ikuti, bahkan yang menuras tenaga sekalipun.

Suatu hari, Rinto mendapat telpon dari sekolah yang mengabarkan bahwa Desta pingsan di sekolah. Rinto tidak terlalu risau, toh istrinya juga berada di rumah dan ia pun menyerahkan sepenuhnya untuk mengurusi Desta.

Dari penuturan sang istri, buah hati mereka sebelum pingsan seperti sulit bernafas. Jari tangannya juga berwarna biru. Keterangan balai kesehatan mengatakan bahwa kemungkinan Desta ada kelainan di jantungnya.

Rinto tercekat, saat dihadapan dokter yang menangani Desta bahwa anaknya mengalami jantung bawaan. Dimana penyakit ini disebabkan oleh faktor keturunan ataupun pola kehidupan ibu saat mengandung anaknya.

Masih mungkin untuk disembuhkan namun dana yang dibutuhkan cukup besar. Dan bagi Rinto, kesembuhan Desta adalah segalanya.

Desta-Desta yang lain mungkin ada disekitar kita. Penyakit jantung bawaan adalah kelainan jantung yang terjadi atau terdapat sejak janin didalam kandungan, Dan kelainan ini berlanjut setelah janin dilahirkan. Desta dalam ilustrasi diatas mungkin lebih beruntung karena hingga usia anak-anak ia masih hidup. Karena banyak kasus terjadi, anak-anak yang memiliki penyakit ini kebanyakan tidak akan bertahan lebih dari satu tahun. Menurut dr.Indriwanto S,SpJP, Kepala UPF Anak Pusat Jantung Nasional (PJN) Harapan Kita, sebelum era operasi jantung, hanya 20% dari PJB yang dapat hidup sampai dewasa.

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan penyebab utama terjadinya kematian tersering dari seluruh jenis kelainan jantung bawaan. Menurut dr.Sukman Tulus Putra, SpA, Ketua Divisi Kardiologi Anak RSCM, kebanyakan meninggal  karena gagal jantung dalam usia kurang dari satu tahun. Hal ini juga yang turut memberi komtribusi terhadap estimasi 15 juta kematian anak tiap tahun didunia ini.

Angka kejadian PJB di indonesia cukup tinggi, namun penanganannya amat kurang. Dalam The 2nd Internasional Pediatric Cardiology Meeting di Cairo, Egypt, 2008 dr.Sukman Tulus Putra lebih lanjut mengungkapkan 45.000 bayi Indonesia terlahir dengan PJB tiap tahun.

Dari 220 juta penduduk indonesia, diperhitungkan bayi yang lahir mencapai 6.600.000 dan 48.800 diantaranya adalah penyandang PJB. Sebuah total yang sangat besar dan tidak menutup kemiungkinan jumlahnya akan terus meningkat. Dibanding yang ditangani, masih banyak bayi-bayi yang harus menghembuskan nafas tanpa pernah mereka sampai ke pusat pelayanan jantung anak, bahkan mereka pun belum pernah mendapat pemeriksaan.

Kendala utama yang dihadapi oleh pusat-pusat jantung di daerah adalah mahalnya alat kesehatan dan keterbatasan kuantitas serta kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam intervensi transkateter untuk PJB, terutama minimnya jumlah kardiologis pediatrik. Kesemuanya ini berdampak pada banyaknya kasus PJB yang meninggal tanpa sempat terdiagnosis, kasus yang dirujuk pun kadang terlambat sehingga tidak bisa dioperasi lagi. Padahal sekarang ini kasusnya banyak sekali. Di RS Harapan Kita, dalam satu tahun mengoperasi hampir 750 kasus. Meningkat dalam arti bukan hanya bedahnya, tapi juga dalam arti kata banyak yang terdeteksi. Namun, coverage-nya boleh dikatakan paling jelek di ASEAN, ujar dr.Jusuf Rachmat, spesialis bedah toraks RSCM. Paling banter 2% saja, sambung dr.Sukman. Malaysia jauh lebih bagus. Pemerintah Malaysia mampu mengcover penderita PJB di atas 80%. Jangan tanya Singapore, tidak ada bayi warga Singapore yang tidak mendapatkan pelayanan bedah jantung. Semua tercover dengan baik.

Keterbatasan tenapa spesialis jantung anak maupun bedah jantung anak ditengarai sebagai kontributor masih tingginya angka kematian bayi di Indonesia. Penyakit jantung bawaan menempati peringkat pertama di antara penyakit-penyakit lain yang menyerang bayi. Selain terbatas, distribusi tenaga spesialis juga belum merata ke seluruh kota besar.

Dari tiga puluh dokter spesialis tersebut, tidak terdistribusi merata di Indonesia. Hanya terkonsentrasi di rumah sakit pusat pendidikan. Dan itupun sebenarnya juga masih kurang karena kebutuhan minimal spesialis jantung anak adalah 5 orang. Sementara saat ini paling banyak 6 orang yakti di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Itu pun 2 dokter dari antaranya sedang menjalani pendidikan di luar negeri.

Di Indonesia sendiri hingga saat ini baru terdapat 30 dokter spesialis jantung anak dan 4 dokter spesialis bedah jantung anak. Sebuah angka yang jauh dari nilai pelayanan maksimal. Selain keterbatasan tenaga, Prof.dr.Ganesja harimurti, SpJP, Guru Besar Tetap Universitas Indonesia di bidang kardiologi pediatrik pada pengukuhannya sebagai Guru Besar mengungkapkan bahwa sarana dan prasarana untuk tatalaksana PJB di Indonesia masih sangat kurang termasuk pelayanan bedah maupun intervensi non-bedah.

Secara keseluruhan, pada tahun 2007 baru 5% kebutuhan nasional dalam tatalaksana PJB terpenuhi. Di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI / PJN Harapan Kita pada tahun 2006, lebih dari 60% pasiend atang pada usia di atas 1 tahun. “Mahalnya biaya menjadi alasan utama keterlambatan tatalaksana PJB”.

pjb3Sekedar gambaran, bila akan menjalani operasi jantung terbuka, yang harus mengoreksi jantung secara tuntas, diperlukan dana antara 40-100 juta rupiah, urai dr.Jusuf Rachmat. Upaya mengatasi biaya alat kesehatan yang mahal ini antara lain dengan menghilangkan pajak atas alat. Sungguh sangat memprihatinkan bila alat-alat penyelamat nyawa masih harus dipungut pajak, imbuh Prof.Ganesja.

Jika mengacu ke luar negeri, Indonesia masih membutuhkan dokter jantung anak sebanyak 500-an dokter. Karena di luar negeri saat ini 1 orang dokter dibanding 500.000 penduduk. Sebuah angka yang fantastis karena jumlah dokter jantung anak di Indonesia baru 30-an orang, demikian dr.Anna Ulfah Rahajoe dalam suatu kesempatan bincang-bincang menjelang akhir masa bakti sebagai Sekjen Pengurus Pusat PERKI.

Lebih lanjut disampaikannya, di Indonesia memiliki 16 center pendidikan, hanya di PJN Harapan Kita saja yang peralatannya lengkap. Kemampuan bedah jantung anak di Indonesia saat ini tak lebih dari 100 kasus per tahun. Sementara jumlah penderita jantung anak bawaan yang membutuhkan operasi sebanyak kurang lebih 25.000 anak.

Menurut standar internasional, untuk tiap 5 juta penduduk sebaiknya ada satu pusat layanan jantung anak. Kalau acuan ini diterapkan, maka Indonesia membutuhkan minimal 40 tempat layanan jantung anak. Agar kualitas terjamin, setiap center perlu melakukan operasi minimal 250 kasus per tahun.

Tentang fasilitas, PJN Harapan Kita dapat disejajarkan dengan center-center di luar negeri, sementara yang di daerah memang masih belum. Berdasarkan analisis, agar seorang ahli bedah jantung anak mampu mempertahankan keterampilannya, ia perlu melakukan minimal 125 operasi per tahun. Angka-angka ini tentunya tidak dapat dikompromi, kalu memang ingin mencapai predikat memadai. Di institusi pendidikan kedokteran, idealnya ada 5 ahli jantung anak, sedangkan di rumah sakit provinsi non pendidikan3 dianggap cukup.

Oleh sebab itu, di Amerika kini sudah mempunyai lebih dari 1500 ahli jantung anak. Lalu, bagaimana di Indonesia yang hanya mempunyai tak lebih dari 30 ahli jantung anak, dan 4 ahli bedah jantung anak yang memenuhi kualifikasi tersebut di atas? Bagaimana dengan kemampuan para kardiologis lainnya. Kesenjangan kompetensi yang terjadi perlu diprogramkan oleh organisasi profesi melalui pendidikan keprofesian berkelanjutan. Karena menangani penyakit jantung bawaan merupakan suatu kerja tim, tidak hanya tergantung pada kardiologisnya saja, maka training juga diperlukan bagi tim Intensive Care. Mendahulukan penambahan spesialis bedah jantung dianggap bukan solusi, bahkan bisa menganggur, demikian kata dr.Jusuf.

Menyikapi hal tersebut, di samping membenahi sistem pelayanan kesehatan, selayaknya pemerintah memberikan apresiasi lebih dengan mendorong dan bekerja sama dengan lembaga pendidikan terkait untuk bahu membahu menelurkan spesialis-spesialis baru di bidang jantung anak dan bedah jantung anak.

Tidak mengherankan kalau kebutuhan Rinto tidak dapat terpenuhi. Jadi siapa yang salah, profesi, pemerintah, ataukan institusi pendidikan? Lebih baik kit duduk bersama untuk menolong melepaskan derita Desta alih-alih mencari kambing hitam. (baj,dk, Tabloid Kardiovaskular)

Sumber : PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia)

Baca juga :

anakku

Jenis dan Gejala Penyakit Jantung Bawaan

Tanya-Jawab seputar Penyakit Jantung Bawaan @Pusat Jantung Nasional Harapan Kita

3 thoughts on “Penyakit Jantung Bawaan, angka kematian tinggi anak

  1. zaman meramu dan berburu penyakit itu baru seputar virus yang menular, makin modern penyakit turut berubah, kalau bukan penyakit jantung ya stress dan berujung suicide..

  2. Ping-balik: Rifqi Fauzan Azhary – My[broken vow] | blognoerhikmat

tinggalkan jejak kata.....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s